logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Puisi    Pantun

Bermain Pantun Nasehat - ANNEAHIRA.COM


Ilustrasi pantun nasehat

Masih ingatkah Anda sewaktu belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah? Topik apa yang paling menyenangkan ketika belajar Bahasa Indonesia? Ya, salah satunya adalah pelajaran tentang pantun.

Pantun termasuk tema pelajaran Bahasa Indonesia yang cukup digemari dan menarik untuk dipelajari. Belajar pantun, tidak hanya mengasah perbendaharaan kata, tetapi juga bisa bermain kata dengan pantun. Artikel ini akan membahas pantun nasehat. Namun, penulis akan terlebih dahulu membahas pengertian pantun.

Apa Itu Pantun?

Pantun merupakan jenis dari puisi lama dalam kesusastraan Bahasa Indonesia. Pantun memiliki sajak berakhiran dengan dua pola, yaitu pola a-b-a-b dan pola a-a-a-a. Pantun asal mulanya termasuk kategori sastra lisan.

Seiring perkembangan ilmu kebahasaan, pantun secara lisan beralih menjadi pantun yang ditulis. Berdasarkan struktur tulisannya, pantun terdiri dari dua bagian, yaitu sampiran dan isi. Dalam satu bait pantun memiliki sampiran dan isi, dua baris pertama merupakan sampiran, dan dua baris ke dua merupakan isi.

Pantun menurut asalnya memiliki dua jenis bentuk. Pertama, pantun yang disebut dengan Karmina, dan kedua pantun yang disebut dengan Talibun. Pantun Karmina merupakan pantun pendek, yang hanya terdiri dari dua baris. Sedangkan pantun Talibun merupakan pantun panjang, yang terdiri dari enam baris atau lebih.

Pantun Nasehat

Pantun awalnya digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pesan, yang dilakukan oleh orang-orang tua kita terdahulu. Hampir semua orang jaman dahulu menggunakan pantun ketika menyampaikan pesan. Pantun yang disampaikan pun masih secara lisan. Selain sebagai sarana penyampaian pesan, pantun juga digunakan dalam upacara adat, seperti perkawinan, kematian, acara adat dan sebagainya. Pantun yang paling sering digunakan waktu itu adalah pantun nasehat.

Pantun nasehat berisikan rangkaian bait kata yang sarat mengandung nasehat. Nasehat berupa pedoman hidup sehari-hari, pedoman pergaulan, dan tata krama penyampaian pesan dari orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua.

Pantun nasehat digunakan sebagai media belajar bagi orang tua kepada anak. Tidak ada perbedaan dari segi struktur bentuk dan isi pantun Karmina dan Talibun dengan pantun nasehat. Hanya saja, pantun nasehat lebih masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, yang disampaikan dengan bahasa yang sederhana.

Contoh Pantun Nasehat

Ada banyak ragam jenis pantun nasehat yang telah kita pelajari sejak kita duduk di bangku Sekolah Dasar. Bagi yang mungkin lupa apa saja pantun nasehat yang ada, berikut beberapa pantun nasehat yang dapat Anda gunakan sebagai motivasi dan penyemangat hidup Anda.

Berburu ke Padang Datar,

Mendapat rusa si Belang kaki;

Berguru kepalang ajar,

Bagaikan bunga kembang tak jadi.

*)

Asam Kandis asam Gelugur,

Kedua asam meriang-riang;

Menangis mayat di pintu kubur,

Teringat badan tidak sembahyang.

*)

Ke puncak sama mendaki,

Kelurah sama menyorong;

Mendongak janganlah dengki,

Melihat ke bawah janganlah sombong.

**)

Semakin tinggi tumbuh tanaman,

Semakin kuat angin menerpa;

Semakin tinggi tumbuh jabatan,

Semakin kuat cobaan menggoda.

**)

Tumbuh melata si poko tebu,

Pergi pasar membeli daging;

Banyak harta tak ada ilmu,

Bagai tumah tidak berdinding.

**)

(*pantun lama,**Zoels, Mohamed Naim Daipi)

Pantun Nasehat Berirama

Kalau keladi sudah ditanam
Janganlah lagi meminta talas
Kalau budi sudah ditanam
Janganlah lagi meminta balas

Kalau ada jarum yang patah
Jangan simpan dalam peti
Kalau ada kata yang salah
Jangan simpan dalam hati

Hari panas jangan ke laut
Kalau ke laut kapal tergalang
Hati panas jangan diturut
Kalau diturut akal pun hilang

Jangan mengipas-ngipas arang
Kalau dikipas banyak baranya
Jangan memanas-manaskan orang
Kalau panas banyak maraknya

Kalau memagar rumpun bawang
Pagar dahulu lapis berlapis
Kalau mendengar pengaduan orang
Dengarkan dulu habis-habis

Kalau ranting sudah bertangkai
Janganlah dililit-lilit juga
Kalau berunding sudah selesai
Jangan diungkit-ungkit juga

Jangan patahkan atap mengkuang
Atap patah kumbangpun lalu
Jangan patahkan cakap orang
Cakap patah orangnya malu

Jangan suka mencabut padi
Kalau dicabut hilang buahnya
Jangan suka menyebut budi
Kalau disebut hilang tuahnya

Jangan suka makan mentimun
Mentimun itu banyak getah nya
Jangan suka banyak melamun
Melamun itu tiada gunanya

Kalau berkitab sambil menulis
Jangan sampai dawat terbuang
Kalau bercakap di dalam majelis
Jangan sampai mengumpat orang

***

Kalau kita tidak bersuluh
Jangan takut berjalan malam
Kalau kita tidak bermusuh
Jangan takut makan setalam

Kalau kita tidak bergalah
Jangan takut membentang kajang
Kalau kita tidak bersalah
Jangan takut ditantang orang

Banyak sayur dijual di pasar
Banyak juga menjual ikan
Kalau kamu sudah lapar
cepat cepatlah pergi makan

Kalau harimau sedang mengaum
Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama

Hati-hati menyeberang
Jangan sampai titian patah
Hati-hati di rantau orang
Jangan sampai berbuat salah

Manis jangan lekas ditelan
Pahit jangan lekas dimuntahkan
Mati semut karena manisan
Manis itu bahaya makanan.

Buah berangan dari Jawa
Kain terjemur disampaian
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan

Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat

Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding

Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah

***

Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan

Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh sedikit ketinggalan
Tapi jangan sampai putus harapan

Anak ayam turun delapan
Mati satu tinggal lah tujuh
Hidup harus penuh harapan
Jadikan itu jalan yang dituju

Ada ubi ada talas
Ada budi ada balas
Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan merana

Jalan kelam disangka terang
Hati kelam disangka suci
Akal pendek banyak dipandang
Janganlah hati kita dikunci

Jalan-jalan ke kota bali
Jangan lupa beli buah duku
Kalau besar jangan mencuri
Agar orang menghargaimu

Bunga mawar bunga melati
Kala dicium harum baunya
Banyak cara sembuhkan hati
Baca Quran paham maknanya

Sebelum menggali buah bengkuang
Galilah dahulu buah ketari
Sebelum mencari kesalahan orang
Carilah dahulu kesalahan sendiri

Ilmu insan setitik embun
Tiada umat sepandai Nabi
Kala nyawa tinggal diubun
Turutlah ilmu insan nan mati

Ke hulu membuat pagar,
Jangan terpotong batang durian;
Cari guru tempat belajar,
Supaya jangan sesal kemudian.

***

Tiap nafas tiadalah kekal
Siapkan bekal menjelang wafat
Turutlah Nabi siapkan bekal
Dengan sebar ilmu manfaat

Hati-hati membeli rokok
Karena rokok panjang-panjang
Hati-hati memilih cowok
Karena cowok mata keranjang

Bikin kue dari buah
Buahnya apel sama delima
Bila engkau suka berdakwah
Dakwahlah seperti ulama

Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

Kemuning ditengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri

Parang ditetak kebatang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu

Padang tamu padang baiduri
Tempat raja membangun kota
Bijak bertemu dengan jauhari
Bagaikan cincin dengan permata

Ngun Syah Betara Sakti
Panahnya bernama Nila Gandi
Bilanya emas banyak dipeti
Sembarang kerja boleh menjadi

Jalan-jalan ke kota Blitar
jangan lupa beli sukun
Jika kamu ingin pintar
belajarlah dengan tekun

Di gunung sana kau suka berlibur
Di gunung sini kau suka tertawa
Bila sudah masuk kubur
Hanya amal yang dibawa

***

Menepuk air di bak mandi,
terpercik muka sendiri.
Bila ingin setiap waktumu berarti,
jangan terjebak rutinitas sehari-hari.

Mencari suatu lokasi tersembunyi,
lebih mudah dari tempat yang tinggi.
Ambilah jarak dari perilaku sehari-hari,
biar lebih mudah menggali

Burung Glatik mati ditusuk
Buat apa cantik klo hatinya busuk…

Bandar Belawan di tanah Deli
Sungguh ramai orang berniaga
Telah bertambah usia kini
Makin bijak dan waspada

Engku Nur membeli belah di pekan
Membeli sirih dank kelapanya
Jatah usia makin terkurangkan
Marilah ingat kepada-Nya

***

Bandar Malaka indah bandarnya
Sungguh elok bila dipandang
Semakin matang dikau usianya
Makin eloklah pribadi dipandang

***

Jika ingin mendulang cadas
Jangan lupa palu baja
Jika murid tumbuh cerdas
Guru pun ikut bahagia

Jika kamu pergi ke dusun
Jangan lupa bawa beras
Belajarlah dengan tekun
Agar kita naik kelas

Jika kita makan petai
jangan lupa makan kerupuk
Jika kita ingin pandai
Ranjin-rajin baca buku

Kehutan mencari rusa
Hendaklah membawa tali
Wahai anak-anak bangsa
Cepat bangun lekas mandi

Andai ini hari rugi
Tentu mujur esok lusa
Jangan lupa gosok gigi
Sebab kamu anak bangsa

***

Hendaklah melempar jangkar
Kalau ada perahu singgah
Kalau anak bangsa pintar
Negeri ini akan bangga

Masak angsa dikuali
Bukan saja di perigi
Hendaklah kamu mengabdi
Di pangkuan ibu pertiwi

Pergilah ke tepi kali
Jangan lupa bawa guci
Bangkitlah anak pertiwi
Bangunlah negerimu ini

Jika kita pegang kuas
Melukislah pada kertas
Jika anak bangsa cerdas
Bangsa pun berkualitas

***

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Enam Nasihat Pantun Agama
  • Pantun Karmina, Pantun Singkat Sarat Makna
  • Pantun Indonesia Sebagai Bahasa Hipokrit
  • Meredakan Stres Lewat Pantun Teka Teki
  • Pantun Kasih yang Romantis
  • Puisi Soneta yang Dilupakan zaman
  • Melatih Kosakata Anak dengan Pantun Kanak-Kanak
  • Pantun Pendidikan, Bisa Menjadi Hiburan
  • Jadi Bijak Karena Pantun Nasihat
  • Pantun Cinta Romantis, Cara Lama Ungkapkan Cinta
  • Contoh Gurindam dan Maknanya
  • Yuk, Mengenal Pantun Kiasan
  • Pantun Kahwin Ciri Khas Budaya Melayu
  • Mari Berpantun Jenaka
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA