Kumpulan Judul Naskah Dakwah Islam Peduli Anak
Ilustrasi naskah dakwah islam
Naskah dakwah Islam memiliki berbagai tema dan judul yang disesuaikan dengan tujuan dan sasaran dakwah. Dakwah secara tematik ini akan membantu memperlancar kegiatan dakwah Islam. Naskah dakwah Islam memiliki tahapan dakwah, strategi dakwah, kegiatan-kegiatan penunjang dakwah, dan tujuan atau goal yang ingin dicapai.
Pendekatan kepedulian pada anak dengan menggunakan jalur keagamaan, melalui naskah dakwah Islam sangat penting. Titik temunya adalah keyakinan anak sebagai amanah bagi orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Keterlibatan agama sangat penting untuk mewujudkan potensi-potensi ideal anak demi masa depan generasi selanjutnya, melalui naskah dakwah Islam.
Dalam kitab Riyadush Shalihin (hal. 231), terdapat contoh nyata sikap kasih sayang Nabi Muhammad. Aisyah ummul mukminin menceritakan: “Datanglah sekelompok orang Badui menghadap Rasulullah saw. Mereka berkata, “Apakah kalian mencium anak kalian? “Ya,” jawab Rasulullah. “Demi Allah, kami tidak pernah melakukan itu,” kata mereka. Rasulullah bersabda, “Aku tidak bisa berbuat apa pun, jika Allah mencabut sifat kasih sayang dari hati kalian”.
Naskah dakwah Islam yang menfokuskan pada kegiatan perlindungan anak, tidak dapat dipisahkan dari berbagai forum agama. Seperti kegiatan pengajian, majelis ta’lim, dan ibadah khutbah jum’at. Naskah dakwah Islam sebagai sarana forum keagamaan mendukung partisipasi agama dalam melindungi anak.
Kumpulan Judul Naskah Dakwah Islam
Naskah dakwah Islam dimaksudkan untuk mempermudah orang Muslim dalam berpartisipasi memberikan wejangan demi mewujudkan generasi masa depan yang baik. Oleh karena itu pemilihan tema atau judul naskah dakwah Islam, sangat penting untuk menarik perhatian anak. Dengan penyampaian nilai agama dalam naskah dakwah Islam, anak-anak terlindungi dari tindak kekerasan dan eksploitasi. Anak mampu menjalani keberlangsungan hidup dengan penuh penghargaan dan kasih sayang.
Untuk memilih judul naskah dakwah Islam tidaklah mudah, tetapi juga bukan berarti sulit. Sebagai pendakwah para agamawan perlu memiliki keterampilan dalam menentukan tema atau judul yang akan dijadikan naskah dakwah Islam. Jika, Anda masih bingung memilih tema atau judul naskah dakwah Islam, bisa Anda pelajari dari berbagai kumpulan judul naskah dakwah Islam. Berikut ini kumpulan judul untuk naskah dakwah Islam tentang perlindungan anak, sebagai bahan judul materi dalam kegiatan dakwah:
- Mendengar Suara Rintihan Anak.
- Hak-Hak Anak dalam Islam.
- Fungsi Keluarga dalam Pendidikan Kepribadian Anak Sejak Dini.
- Pengaruh Orang Tua Shalih pada Anak.
- Sosok Keteladanan bagi Anak.
- Mewujudkan Uswatun Hasanah bagi Anak di Rumah.
- Tanggung Jawab Keluarga pada Masa Depan Anak.
- Anak: Aku Ingin Menjadi Hamba Allah yang Shalih.
- Mendidik Anak Menghormati Orang Tua.
- Sanksi Bagi Orang Tua yang Tidak Bertanggung Jawab.
- Pendidikan Adalah Hak Anak yang Harus Ditunaikan.
- Membangun Hubungan Dialogis Antara Orang Tua dengan Anak.
- Mengajarkan Al-Quran Kepada Anak.
- Penghargaan Islam Terhadap Anak.
- Kesempatan Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan Sama Saja.
- Mendikte Kalimat Tauhid Kepada Anak.
- Mendidik Anak Menghargai Sesama Manusia dan Alam.
- Kajian Islam: Kesempatan Anak Menentukan Masa Depannya.
- Anak: Aku Butuh Kasih Sayang dan Kepercayaan.
- Kekerasan Terhadap Anak, Bukan Budaya Islam.
- Membangun Spiritualitas Anak Usia Dini.
- Etika Komunikasi dan Pendidikan Anak dalam Keluarga.
- Membangun Sikap Kritis Anak Secara Islami.
- Urgensi Pencatatan Kelahiran Anak Menurut Islam.
- Menyelamatkan Anak dari Bahaya Miras dan Narkotika.
- Contoh Nabi Muhammad Membelai Anak.
- Ancaman Pornografi-Pornoaksi Terhadap Moralitas Anak.
- Bimbingan Islami agar Anak Memilih Teman Baik.
- Bermain dan Bercanda Bersama Anak dalam Islam.
- Hikmah Islam: Memberi Hadiah Kepada Anak.
- Anjuran Olahraga kepada Anak Menurut Islam.
- Tauladan Nabi Bersama Anak-Anak.
- Pembinaan Akhlaq Baik dalam Keluarga.
Kepedulian para agamawan dalam menyampaikan dakwah Islam berpengaruh besar pada harapan dan cita-cita agar tidak ada tindakan kekerasan orang dewasa pada anak. Tidak terjadi lagi pernikahan dini terhadap anak perempuan. Tidak ada anak yang meninggalkan bangku sekolah untuk mendukung ekonomi keluarga.
Semoga sajian kumpulan judul naskah dakwah Islam tentang perlindungan anak bermanfaat bagi kita semua. Memudahkan penyajian materi naskah dakwah Islam para pendakwah Islam, mubaligh dan mubalighat dalam membina masyarakat luas. Untuk masa depan anak dan generasi bangsa yang lebih baik.
Contoh Naskah Dakwah Islam Peduli Anak
Jika kita sudah mendapat gambaran untuk menentukan tema dan judul naskah dakwah Islam, lalu bagaimana membuat naskah dakwah Islam yang baik, sehingga mudah diterima oleh orangtua dan anak? Dibutuhkan kepiawaian dalam mengembangkan judul naskah dakwah Islam oleh para pendakwah. Meskipun judul naskah dakwah Islam yang akan dikembangkan itu bagus, tetapi bila tidak ditunjang dengan kemasan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, dakwah yang dilakukan tidak akan tepat sasaran.
Terutama bagi para pendakwah pemula atau yang baru pertama kali memberikan ceramah atau berdakwah dengan tema peduli anak, tentu membutuhkan beberapa panduang untuk membuat naskah dakwah Islamnya. Anda bisa melihat dari contoh naskah dakwah Islam untuk mempelajari lebih jauh, bagaimana menentukan judul naskah dakwah Islam beserta isi materinya. Sehingga, baik judul maupun isi materi naskah dakwah Islam bisa konsisten dan akan tepat sasaran pada saat dakwah berlangsung.
Berikut salah satu contoh naskah dakwah Islam yang memuat kepedulian terhadap anak:
Judul Naskah dakwah Islam: Pendidikan Seks Untuk Anak-Anak
Assalamualaikum Wr., Wb.,
Para hadirin yang terhormat, pertemuan kali ini saya akan menyampaikan dakwah yang berjudul Pendidikan Seks Untuk Anak-Anak. Hal ini akhir-akhir ini menjadi perbincangan yang cukup serius mengingat maraknya seks bebas yang melanda generasi muda.
Para hadirin yang dimuliakan Allah Swt,
Ada banyak pengertian tentang apa itu pendidikan seks, tergantung pada sudut pandang yang dipakai. Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada anak sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri, dan perkawinan.
Pendidikan seks di dalam Islam merupakan bagian integral dari pendidikan akidah, akhlak, dan ibadah. Terlepasnya pendidikan seks dengan ketiga unsur itu akan menyebabkan ketidakjelasan arah dari pendidikan seks itu sendiri, bahkan mungkin akan menimbulkan kesesatan dan penyimpangan dari tujuan asal manusia melakukan kegiatan seksual dalam rangka pengabdian kepada Allah.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Orangtua mana pun tentu selalu menginginkan anaknya menjadi anak yang baik. Anak adalah generasi yang diciptakan untuk kehidupan masa depan. Sepantasnyalah orangtua memberikan bekal berupa pendidikan yang menyeluruh, termasuk pendidikan seks. Orangtua adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap anak dalam masalah pendidikan, termasuk pendidikan seks.
Pokok-Pokok Pendidikan Seks Perspektif Islam
Di antara pokok-pokok pendidikan seks yang bersifat praktis, yang perlu diterapkan dan diajarkan kepada anak adalah:
1. Menanamkan rasa malu pada anak.
Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Membiasakan anak perempuan sejak kecil berbusana Muslimah menutup aurat juga penting untuk menanamkan rasa malu sekaligus mengajari anak tentang auratnya.
2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan.
Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang berbeda yang kelak akan diperankannya. Ibnu Abbas ra. berkata:
“Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki” (HR Bukhari).
3. Memisahkan tempat tidur mereka.
Usia antara 7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya. Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya.
4. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu).
Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Aturan ini ditetapkan mengingat di antara ketiga waktu tersebut merupakan waktu aurat, yakni waktu ketika badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka.
5. Mengenalkan mahram-nya.
Tidak semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati. Dengan memahami kedudukan perempuan yang menjadi mahram, diupayakan agar anak mampu menjaga pergaulan sehari-harinya dengan selain wanita yang bukan mahram-nya.
6. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata.
Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Begitu pula dengan mata yang dibiarkan melihat gambar-gambar atau film yang mengandung unsur pornografi.
7. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât.
Ikhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang diboleh-kan oleh syariat Islam. Perbuatan semacam ini pada masa sekarang sudah dinggap biasa. Mereka bebas mengumbar pandangan, saling berdekatan dan bersentuhan; seolah tidak ada lagi batas yang ditentukan syariah guna mengatur interaksi di antara mereka.
8. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat.
Dinamakan khalwat jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di suatu tempat, hanya berdua saja. Biasanya mereka memilih tempat yang tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Sebagaimana ikhtilât, khalwat pun merupakan perantara bagi terjadinya perbuatan zina.
Itulah beberapa hal yang harus diajarkan kepada anak berkaitan dengan pendidikan seks. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. (penulis: Zulia IlmawatiPsikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Remaja).

