Apresiasi Makna Puisi Aku Karya Chairil Anwar
Ilustrasi makna puisi aku karya chairil anwar
Siapa yang tak kenal puisi Aku karya Chairil Anwar? Semenjak Sekolah Dasar, kita telah mengenal puisi ini saat mempelajari pelajaran bahasa Indonesia. Anak-anak Sekolah Dasar umumnya diminta oleh sang guru bahasa Indonesia untuk menghafal puisi tersebut, lalu mendeklamasikannya di depan kelas.
Bait-bait puisi itu pun hingga kini tetap melekat di kepala kita, bahkan saat mendengar ada yang membacakan, kita langsung menangkap bahwa itu adalah puisi berjudul 'Aku' karya Chairil Anwar. Apa sebetulnya yang menarik dari makna puisi Aku karya Chairil Anwar tersebut? Kenapa dimasukkan ke dalam bagian dari kurikulum pelajaran bahasa Indonesia anak-anak Sekolah Dasar.
Meskipun terkadang para siswa sekolah umum tidak banyak yang bisa menelaah apresiasi dari puisi ini, yang dirasakan hanyalah tekanan dari sang guru untuk menghapal dan membacakannya di depan kelas. Inilah yang membuat para siswa akhirnya tidak menyukai puisi. Pesan-pesan makna yang ada di dalam puisi gagal disampaikan, sehingga jangankan mencintai sastra, untuk memulai belajarnya pun terkadang sebagian siswa merasa malas. Apalagi ketika siswa mengetahui bahwa pesan dari puisi yang digambarkan guru sebagai puisi perjuangan ternyata jauh panggang dari api, dan hanya sebagai mitos yang dibuat buat.
Menggali Makna Puisi Aku Chairil Anwar
Sebelum menggali makna puisi Aku karya Chairil Anwar. Anda simak lebih dahulu bagaimana Puisi "Aku" dari Chairil Anwar ini..
AKU
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
Lalu simaklah penulisan kutipan dari Suara Merdeka, Jumat, 14 Mei 1999 ini :
Salah Kaprah. Buat kita sekarang, sosok Chairil sudah lekat dengan citra
kepenyairan Indonesia. Sejumlah larik puisi dari penyair kita ini telah menjadi semacam pepatah atau kata-kata mutiara yang hidup di kalangan
masyarakat:
"Aku ini binatang jalang", "Hidup hanya menunda kekalahan",
"Aku mau hidup seribu tahun lagi", dan masih banyak lagi. Atau bertanyalah pada siswa SLTP dan SLTA siapa penyair kondang Indonesia, niscaya mereka akan menyebut namanya, lengkap dengan beberapa judul syairnya.
Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, ada yang salah dalam persepsi kita
mengenai tokoh yang satu ini. Ada yang salah kaprah. Sebagai ilustrasi, sajak "Aku" lebih sering dipahami banyak orang sebagai sajak pemberontakan terhadap penjajahan. Padahal tidak. Kata Asrul Sani, sajak itu sebenarnya tidak lebih dari "teriakan putus asa dan rasa getir", termasuk penolakan terhadap sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu ayahnya.
... Belakangan, sajak Chairil yang berjudul "Aku" dan "Diponegoro" juga banyak dipahami orang sebagai sajak perjuangan. Padahal, sajak-sajak ini adalah
jenis sajak individu, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
perjuangan kemerdekaan karena ditulis pada 1943. Namun dalam sajak "Aku" misalnya, di mana Chairil mengintroduksi dirinya sebagai "Aku binatang jalang", ia bisa menjelmakan kata hati rakyat Indonesia yang ingin bebas.
Dalam analisis Agus R. Sardjono, penyair terkemuka Bandung, sajak-sajak seperti "Krawang-Bekasi", "Persetujuan dengan Bung
Karno", "Aku", dan "Diponegoro" inilah yang justru di kemudian hari membuat Chairil Anwar menjadi legenda dalam dunia kepenyairan Indonesia.
Berikut ini beberapa apresiasi penting penulis akan makna puisi Aku karya Chairil Anwar; terlepas dari tafsiran artikel di atas.
- Dari segi bentuk tipograpi penulisan, puisi ini sudah menampilkan kebebasan dalam menyajikan bait-bait. Puisi ini tak lagi dikekang dengan jumlah baris dalam bait. Namun puisi ini juga tetap mengutamakan rima (bunyi di akhir lirik) yang cukup indah untuk didengar. Keindahan rima akan dirasakan pada saat membacakan puisi ini. Penyelaman makna puisi Aku karya Chairil Anwar ini pun akan terasa lebih indah jika dibarengi dengan rima yang cantik.
- Dalam konteks penyajian pesan, makna puisi Aku karya Chairil Anwar ini memberi kekuatan energi yang cukup terhadap nilai semangat yang terkandung di dalamnya. Chairil Anwar memberikan amanat tentang bagaimana menghadapi salah satu fragmen kehidupan. Semangat, kegigihan dan nilai perjuangan sangat kental dalam puisi ini.
Melalui bahasa-bahasa yang disajikan dari ungkapan makna puisi Aku karya Chairil Anwar, penulis mampu mengekspresikan keinginannya yang cukup kuat terhadap sebuah tujuan hidup. Kata 'kumau tak seorang kan merayu' merupakan bentuk ketegasan sikap yang cukup kuat. Lirik ini memperjelas kekokohan pesan makna yang dikandung puisi berjudul Aku ini.
Sikap optimis terpancar jelas dari kalimat 'Aku ingin hidup seribu tahun lagi'. Ini merupakan bentuk pesan tersirat yang perlu dimaknai mendalam oleh para penikmat sastra. Sebetulnya puisi itu akan muncul sebagai sajian yang menarik apabila kita mampu mengungkap makna tersirat dari sajian bahasanya. Tak hanya estetika yang akan kita dapatkan, namun juga ada makna yang membekas di hati dan pikiran. Di sanalah peran sebuah pesan itu muncul. - Secara bahasa, makna puisi Aku karya Chairil Anwar Aku karya Chairil Anwar menggunakan bahasa-bahasa lugas dan transparan, tidak terlalu sublim. Diksi-diksi disajikan secara tegas dan kekuatan emosi yang cukup tinggi. Memaknai untaian kata puisi ini tak akan membuat kepala Anda menjadi ruwet, hanya saja Anda perlu menarik benang merah pesan universal dari puisi di atas.
- Sajak Aku memang benar sajak mimbar. Pembacanya bisa membacakan dengan keras-keras di atas podium, dan menyajikan berbagai macam teknik suara dari yang menggelegar berwibawa, sampai kepada suara yang syahdu dan menggoda.
- Makna puisi Aku karya Chairil Anwar, sedikit bersepakat dengan artikel dari kutipan Rakyat Merdeka di atas, terdengar seperti versi individualistis yang sama sekali lepas dari nilai nilai kebersamaan yang umum dalam perjuangan kemerdekaan. Setidaknya, bila puisi ini dikaitkan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, pastilah pembacaannya ditujukan, atau berupaya mengimajinasikan seorang pahlawan adigung seorang superhero sekelas Spiderman atau Batman, karena sama sekali tidak terdengar teamwork di dalamnya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Tidak seperti Karawang Bekasi yang disadur Dari Archibald McLeish, ada nada Kami, serdadu, prajurit, senjata, yang memang berserakan simbol simbol perang.
- Apalagi bagian ini :
::Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu::
Berkesan cengeng. Secara penggalian sederhana makna puisi Aku karya Chairil Anwar dari bait tersebut malah menjelaskan rajukan seseorang menjelang mati, tidak mau di kasihi, ditangisi seseorang 'spesial' karena posisinya sedang ngambek. Bila mewakili penjelasan dari Asrul Sani, kalimat revealna bisa jadi semacam ini.
::Jikalah saya mati
Saya ngga sudi ditangisi
Termasuk Anda
Ga usahlah nangis
Wong, barangkali karena dalam masa-masa Chairil di dera kemiskinan, berantakan di Batavia, sang Ayah seolah cuek. Seolah ingin mengatakan, ke mana saja Anda selama ini, “Giliran saya mau sakaratul maut, baru di anggap. Ga usah ya.”
Apalagi jelas jelas secara gamblang ditambahi dengan bait selanjutnya..
::Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang::
Klop, Chairil merasa terasing, merasa tidak dianggap, merasa kurang perhatian dan kasih sayang maka dari itu tidak penting lagi diperhatikan. Intinya, makna puisi Aku karya Chairil Anwar adalah puisi galau. Dari sosok yang ngambek karena situasi menjadikannya demikian. Tentu saja bukan salah Chairil, manusiawi, masuk akal, bila marah. Bahkan bagusnya, rasa marahnya di tambahkan kalimat optimis, pingin hidup 1000 tahun lagi.

