logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hobi    Menulis    Nonfiksi

Mendalami Contoh Resensi Buku Non Fiksi


Ilustrasi contoh resensi buku non fiksi

Contoh resensi buku non fiksi sangat diperlukan terutama bagi mereka yang ingin bisa belajar ihwal menulis resensi buku yang bergenre non fiktif. Namun sebelumnya akan dijelaskan dulu, bahwa buku non fiksi merupakan buku yang ditulis berdasarkan data dan fakta, disajikan berdasarkan aturan keilmiahan yang valid sehingga substansinya bisa dipertanggungjawabkan.

Berbeda dengan buku jenis fiksi, seperti cerita pendek (cerpen), novel, puisi, dan lainnya yang lebih mengandalkan daya imajinasi, dan tentunya penuh dengan subjektifitas.

Contoh menulis buku resensi non fiksi sangat berguna bagi mereka yuang ingin menjadi seorang penulis resensi profesional, siswa/i yang ditugaskan untuk membuat tugas resensi buku oleh guru, atau mahasiswa komunikasi atau ilmu-ilmu sosial yang tentunya tak bisa jauh  dari referensi buku-buku yang terkadang menuntut mereka untuk dituliskan resensinya. Maka, artikel ini menemukan relevansinya bagi mereka yang memang ingin bisa menulis dan mengetahui apa itu resensi buku non fiksi.


Pengertian Resensi

Kata “resensi” itu sendiri berasal dari bahasa latin, yakni recensere atau revidere yang mempunyai makna melihat kembali atau melakukan penilaian.atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata review, dalam bahasa Belanda resencie dimana dari kesemuanya itu berarti mengulas dan memberikan penilaian mengenai isi/substansi sebuah buku.

Maka resensi buku non fiksi merupakan sebuah karya tulis yang bertujuan untuk mengulas sebuah buku non fiksi sehingga darinya ditemukan sebuah gambaran yang jelas dan gamblang walaupun hanya intisarinya saja.


Contoh Resensi Non Fiksi

Berikut akan dibahas contoh resensi buku non fiksi yang dimaksud tersebut.

Pertama-tama, sebelum mulai meresensi buku, cantumkan dulu data buku yang akan diresensi seperti: judul buku, nama penulis (kalau meresensi buku fiksi, nama penulis biasanya nama penulis diganti dengan nama pengarang), nama penerbit, tahun terbit, ketebalan buku, nomor ISBN, dan harga buku.

Misalnya:

Judul : Pelanggaran HAM dalam Hukum Keadaan Darurat di Indonesia  

Penulis  : Binsor Gultom

Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama

Tahun : November 2010

Tebal : 408 halaman


Isi Resensi:

Bagaimana menegakkan Hak Azasi Manusia (HAM) dimasa hukum darurat sebuah negara? Binsor Gultom dalam buku berjudul “Pelanggaran HAM dalam Hukum Keadaan Darurat di Indonesia” hadir untuk memberikan pandangan dan jawaban atas pertanyaan fundamental diatas.

Disaat sebuah negara-bangsa hendak mengeluarkan sebuah keputusan yang mahapenting kerap saja ada gejolak (dari berbagai pihak yang bertentangan) untuk melakukan perlawanan yang kontradiktif.

Dengan dalih mengamankan negara, kerap kali pihak angkatan bersenjata melakukan tindakan yang refresif kepada para penentang (demonstran). Makanya, konflik berdarah yang tak jarang berujung pada pelanggaran HAM hampir selalu terjadi dalam setiap “pertempuran” antara civil society dengan aparatus angkatan negara.

Indonesia menangis pasca jajak pendapat Timor-Timur tahun 1999 silam karena banyak angkatan besenjata/ABRI kala itu yang disinyalir telah melakukan pelanggaran HAM dengan banyak melakukan pembunuhan terhadap warga setempat. Belum lagi pelanggaran berat dalam peristiwa berdarah di Tanjung Priok 15 tahun sebelum jajak pendapat terjadi (1984).

Disamping dua kasus yang dianggap paling fenomenal dan terberat pelanggaran HAM-nya, setidaknya negeri ini mendata puluhan kejadian lain yang juga disinyalir didalamnya mengandung substrat melanggar HAM.

Tahun 1965-1966 ada upaya pembasmian anggota PKI yang dilakukan rezim orde baru yang diperkirakan menewaskan sampai satu juta orang, pengejaran terhadap para pembangkang politik tahun 1966-1971, operasi militer di Papua, penembakan misterius (petrus) terhadap para pelaku kriminal tahun 1980-an, dsb.

Ironisnya, upaya para korban/keluarga korban selalu menghadapi jalan buntu ketika berteriak mengemis keadilan. Banyak rintang yang menjegal para pelaku untuk diberikan penghakiman di institusi pengadilan negeri ini.

Hal yang menghambat tersebut salah satunya disebabkan oleh adanya multiinterpretasi dalam penanganan kasus-kasus HAM tersebut dari institusi-institusi yang berwenang, seperti Kejaksaan Agung dan Komisi Penyelidikan terhadap Pelanggaran (KPP) HAM.

Dengan model kajian ilmiah, buku ini memberikan solusi yang dianggap “manis” yakni dalam setiap penyelesaian kasus pelanggaran HAM pada keadaan darurat, wabilkhusus darutat militer dan perang, sebaiknya dijalankan di Pengadilan Militer dengan komposisi hakim terdiri dari 3 hakim dari Peradilan Umum dan 2 orang dari Peradilan Militer.

Penulis merasa pesimis jika kasus HAM tersebut mesti dijalankan sesuai dengan UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM yang sarat prinsip retroaktif, tidak ada kadaluarsa, dan ribetnya lagi memerlukan rekomendasi dari DPR.

Fungsi Resensi Bagi penerbit

Sebaiknya setelah Anda meresensi buku  lekas dikirim kepada media massa yang menyediakan kolom pustaka. Agar resensi buku Anda bisa lekas ditayangkan di koran, atau majalah.  Tahukah Anda bahwa resensi buku memberi manfaat bagi semua kalangan, misalnya memberikan sebuah daya tarik atau motivasi kepada pembaca untuk segera membeli buku hasil resensi Anda.  Resensi merupakan sebuah testomoni dari pembaca buku yang dituangkan pada deretan kalimat, testimony berupa ulasan tentang cerita dalam buku.  

Secara langsung penerbit sangat terbantu dengan adanya resensi dari penggemar buku. Karena resensi merupakan bentuk lain dari promosi buku yang diterbitkan. Resensi yang baik adalah resensi yang bisa mempengaruhi pembaca agar mau membaca buku yang diulasnya. Semakin banyak orang yang membaca resensi tentu semakin banyak pula orang yang terpengaruhnya.  Otomatis calon pembaca mencari buku tersebut di toko buku dan membelinya.Tentu secara tak langsung bisa menolong menggenjot omzet penjualan buku tersebut.

Penerbit pun tak sungkan memberikan honor kepada resensor yang bisa membuat resensinya ditayangkan di media massa. Selain honor penerbit terkadang memberikan bonus tiga buah buku kepada resensor. Menarik bukan?

Tips Resensi Buku

Meresensi buku bukanlah pekerjaan sulit, tapi juga tak bisa digampangkan begitu saja. Ada hal-hal yang harus diperhatikan ketika Anda ingin meresensi sebuah buku baru. Mengapa buku baru karena, buku baru memiliki bobot informasi yang lebih tinggi dari pada buku lama.   Untuk selebihnya berikut ini merupakan tips ringkas bagaimana cara menulis resensi agar bisa ditayangkan pada media masa.

  • Judul buku baru terbit

Langkah pertama pilihlah buku-buku yang baru terbit, maksimal 3 bulan setelah buku terbit.  Selain itu pilihlah tema-tema yang sekiranya menarik dan memberikan sesuatu yang berbeda.  Carilah tema yang mampu Anda cerna sesuai dengan tingkat pengetahuan Anda. Jangan sampai Anda membeli buku yang sulit dijangkau dengan kemampuan analisa Anda. Karena buku memiliki segmen pembaca beda-beda.  Prinsip ini berlaku pada semua genre buku baik fiksi maupun non fiksi.

  • Baca berkali-kali

Setelah Anda mendapatkan buku dengan tema yang menarik. Langkah selanjutnya bacalah keseluruhan buku tersebut hingga tuntas. Jika ada bagian yang sekiranya kurang bisa dipahami, bacalah sekali lagi, mungkin penulis menyembunyikan sebuah makna pada kalimat kiasan.  Membaca berulang kali supaya resensor mengerti apa maksud dari tulisan / buku ini.  Biasakan memasang target menyelesaikan satu buku untuk dibaca, agar  acara resensi juga bisa cepat selesai.  Jadi kunci suksesnya adalah jangan malam membaca buku.

  • Garisbawahi bab / paragraf yang menarik

Carilah kalimat –kalimat yang menjadi pokok bahasan atau yang mendukung tema buku. Caranya tandai kalamat atau paragraph yang menurut Anda sangat penting untuk dimasukan dalam resensi.   Karena dalam menulis resensi juga perlu melansirkan paragraph maupun kalimat-kalimat yang mendukung, agar pembaca mengerti apa yang tertuang dalam buku.  

  • Tulis dengan bahasa baik

Tulislah dengan bahasa yang baik benar,  ketika dalam menulis posisikan Anda sebagai pembaca. Gunakan bahasa yang mudah dicerna oleh orang awam. Pilihlah kata-kata yang familier dan jauhkan penggunaan kosakata yang monoton.  

  • Ringkas

Menulis resensi buku sebaiknya jangan panjang-panjang, maksimal  500 kata sudah cukup. Gak usah menulis resensi secara bertele-tele hingga menghabiskan berlembar-lembar kertas. Yang pasti dalam resensi ini fungsi Anda hanya menjelaskan point mana pada buku yang menarik.  Diteruskan dengan sedikit sinopsisnya jika buku itu berubah novel.  Buatlah resensi Anda menarik, dan dimengerti oleh pembaca.

  • Pilihlah media massa yang terkenal

  Setelah resensi selesai dikoreksi dan bebas dari kesalahan ketik, langkah selanjutnya mengirim tulisan Anda pada media massa yang Anda inginkan. Kirim melalui email pada dan disertai dengan foto sampul depan buku yang Anda resensi.  Tunggu balasan dari redaksi, jika resensi dimuat Anda mendapatkan honor dari koran, dan langkah berikutnya hubungi juga kantor redaksi penerbit disertai dengan kliping resensi yang ditayangkan pada koran. 

Itulah sekelumit mengenai contoh resensi buku non fiksi yang wajib Anda pelajari dan fahami dengan seksama. 

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Setiap Orang Memiliki Kemampuan Menulis
  • Proses Menulis yang Benar
  • Menulis Itu Gampang Gampang Susah
  • Menjadi Penulis Wanita Yang Hebat
  • Daur Ulang Tulisan Anda!
  • Kiat Menulis Artikel Kritis
  • Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah
  • Berkenalan dengan Jenis-Jenis Novel
  • Panduan Menulis Artikel Bagi Penulis Pemula
  • Pengertian Menulis; Ya Menulis!
  • Menulis Hasil Wawancara
  • Metode Pembelajaran Menulis dengan Flash Card
  • Kiat Sukses Ikut Lomba Menulis Cerita Anak
  • Menulis Artikel Ilmiah Itu Gampang!
  • Penulis Puisi Terkenal Sepanjang Sejarah
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA