Refleksi Karya Cerpen Bahasa Sunda
Ilustrasi cerpen bahasa sunda
Cerpen bahasa Sunda atau cerita pendek bahasa Sunda, sudah berkembang sejak lama di kesastraan Indonesia. Sinonim dalam bahasa Sunda dikenal dengan istilah carita pondok. Carita pondok ini sering disingkat dengan nama carpon. Dalam perkembangannya, carpon disebut juga dengan tadok.
Bentuk cerpen Sunda sama halnya dengan bentuk-bentuk cerpen berbahasa Indonesia. Mengisahkan berbagai peristiwa hidup, baik fiksi atau non fiksi. Perbedaannya adalah dalam penggunaan bahasa dan keterkaitan dengan perikehidupan orang-orang Sunda di Tatar Sunda.
Cerpen ditulis sebagai bentuk refleksi penulisnya untuk mengungkapkan segala sesuatu yang mengundang imaji-kritiknya dan dituangkan dalam bentuk tulisan. Nilai sastra memang sangat perlu ditonjolkan untuk membuat sebuah cerpen lebih menarik dan bernilai sastra tinggi.
Dalam tradisi Sunda sendiri dikenal banyak istilah, peribahasa, dan kata-kata bijak yang berkembang dari mulut ke mulut. Kekayaan bahasa ini adalah hasil refleksi orang Sunda terdapat pengalaman-pengalaman hidup yang dirasakan, dipikirkan, dan dipahami dalam waktu dan situasi yang tertentu.
Contoh peribahasa Sunda sebagai hasil refleksi orang Sunda adalah: Anjing ngagogogan kalong, menginginkan sesuatu yang jauh dari kemungkinan untuk berhasil. Ambekna sakulit bawang, sifat mudah marah dan tak mudah reda jika sedang amarah. Clik putih clak herang, keridhaan dan keikhlasan yang lahir dari hati sanubari.
Penggunaan kekayaan bahasa Sunda, semisal peribahasa atau paribasa Sunda, menambah nilai sastra kesundaan dalam sebuah karya sastra. Dampak positif lainnya adalah sebagai salah satu usaha pelestarian paribasa Sunda dalam berbagai karya-karya Sunda sendiri.
Latar Sejarah
Dalam alur sejarah sastra Sunda. Cerpen bahasa Sunda telah muncul di publik dalam majalah-majalah yang terbit pada zaman perjuangan. Majalah Parahiangan banyak memuat karya cerita pendek Sunda sejak tahun 1929 sampai dengan tahun 1942. Majalah berbahasa Sunda merupakan majalah yang pertama kali memuat carpon-carpon Sunda.
Kondisi negeri Indonesia yang sedang dijajah memang menyulitkan perkembangan cerpen-cerpen Sunda di Tatar Sunda. Kendala perangkat pendukung sangat dirasakan, terutama kendala ekonomi yang sedang parah saat itu. Hingga menyulitkan pertumbuhan dan penyebaran cerpen Sunda ke khalayak publik.
Kondisi ini berubah setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaannya. Bentuk cerpen Sunda banyak berkembang dan menjadi media karya sederhana yang bisa dikonsumsi masyarakat. Banyak majalah dan koran yang memiliki rubrik cerita pendek.
Peranan koran dan majalah sangat besar dalam perkembangan carpon-carpon Sunda. Dukungan media ini meningkatkan geliat para penulis cerpen untuk selalu berkarya. Bentuk sastra carpon Sunda semakin jelas dalam deretan khazanah kesastraan Nusantara.
Pasca Indonesia selesai mengalami masa perang banyak muncul berbagai buku karya penulis cerpen Sunda. Hampir sebagian besar adalah kumpulan-kumpulan karya cerpen-cerpen Sunda yang sebelumnya telah dimuat dalam berbagai majalah dan koran.
Karya Carpon Sunda
Sejak tahun 50-an banyak terbit buku cerpen di khalayak publik. Buku cerita pendek Sunda pertama yang hadir di masyarakat pembaca adalah karya penulis G.S berjudul, “Dogdog Pangréwong”. Pada tahun 1960, penulis carita pondok Rusman Sutiasumarga membuat karya berjudul, “Papacangan”. Satu tahun berikutnya terbit buku Dongéng Énteng ti Pasantrén, karya RAF.
Buku berjudul “Jurig!” karya Tini Kartini terbit pada tahun 1963. Beberapa tahun berikutnya, penulis Yus Rusyana menerbitkan, “Jajatén Ninggang Papastén” di tahun 1989. Memasuki era 90-an, terbit buku “Halimun Peuting” karya Iskandarwassid (1991). Lalu satu tahun berikutnya terbit pula buku carpon “Mirah Delima” karya Kis Ws.
Perkembangan penulisan cerpen Sunda didukung pula oleh berbagai apresiasi dari para pemerhati dan pelaku sastra Sunda di Indonesia. Berbagai kegiatan pagelaran penulisan, festival pembacaan cerpen, hadiah sastra banyak digelar untuk mendukung kesastraan Sunda.
Karya cerpen bahasa Sunda tidak akan berhenti dan akan terus muncul dengan berbagai inovasi penyuguhan rangkaian kata dan kalimat bermuatan nilai sastra Sunda yang indah nan menarik. Tetapi semua kembali kepada diri kita sebagai pelakunya.
Hayam kokorongok subuh
Ini adalah salah satu contoh dari cerpen bahasa sunda yang mempunyai judul hayam kokorongok subuh. Kalau di lihat dari judulnya maka Anda pasti langsung menafsirkannya dengan seekor ayam yang berkokok saat dalam waktu pagi atau subuh. Namun agar Anda tidak terus penasaran tentang isi dari cerpen ini akan lebih baiknya bila membacanya sendiri. Sehingga penasaran Anda akan dapat terjawab.
Kacaritakeun jaman baheula aya oray naga geus lila ngalamun hayang nyaba ka kahiyangan. Unggal isuk eta oray teh osok dangdan mapantes maneh. Tapi keukeuh teu ngarasa ginding lantaran teu boga perhiasan, mangkaning arek ngadeheus ka dewa.
Sanggeus mikir manehna inget ka sobatna sakadang titinggi, maksudna arek nginjeum tanduk ka sakadang jago haritamah jago teh aya tandukan menta di anteur ka titinggi. Sanggeus aprok dicaritakeun sakabeh pamasalahan naga ka jago. Maksudnamah nginjeum tanduk ka jago, engke dianteurkeuna deui ku sakadang titinggi cak sakadang naga.
Hayam jago teu nembalan lantaran apal jahat jeung licikna naga. Lila-lila naga ngarayu, jago oge merekeun tandukna ka sakadang naga. Cak naga ka jago “engke tandukna dibalikeun deui dianteurkeun ku titinggi samemeh balebat, lamun balebat can balik wae bisi kaula poho ngawangkong jeung dewa, anjeun mere tanda weh kongkorongok sing tarik.”
Geus kitumah jung weh naga jenug titinggi the arindit. Isukna samemeh balebat hayam jago kongkorongok satakerna. Sakali dua kali titinggi teu datang wae, terus jago teh kongkorongok sababaraha kali deui, tapi tetep titinggi teu dating keneh bae. Nepi ka brayna berang titinggi teu datang-datang.
“Keun sugan cenah peuting engke” pok hayam teh. Tapi weleh ditunggu nepi kasubuh titinggi teu dating keneh wae. Pohara ambekna hayam jago nepi ka nyancam lamun titinggi dating arek di pacok nepikeun ka paehna.
Ti harita hayam jago teh tiap-tiap subuh kongkorongok sarta mun papanggih jeung titinggi sok langsung dipacok nepi ka paehna, males pati dumeh kungsi ngabobodo.
Setelah membaca cerpen tadi kini saatnya Anda melihat unsure-unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen ini. Dimulai dari judul cerpen yaitu hayam kokorongok subuh. Lalu di dalam cerpen ini bahasa sunda yang digunakan adalah kasar. Tokoh yang ada di dalam cerpen diantaranya yaitu ayam jago serta ular naga. Sifat atau watak yang ada pada masing-masing tokohnya antra lain
Ular naga = suka menipu, jahat, suka dengan barang orang lain, tidak suka bersyukur
Titinggi = tidak punya pendirian , lalu apapun yang diperintahkan pasti dia lakukan sekalipun perintah tersebut salah
Ayam jago = terlalu gampang dibohongi oleh orang karena sifatnya yang mudah percaya
Selain itu juga latar atau tempat yang dipergunakan di cerpen hayam kokorongok subuh ini di hutan belantara .
Cerpen hayam kokorongok subuh ini bukan hanya cerita dongeng semata namun juga tersimpan pesan di dalamnya. Makna yang ada yaitu kita sebagai manusia jangan pernah menghabiskan waktu kehidupan dengan sifat suka menipu orang, sombong seperti yang dilakukan oleh ular naga.
Lalu jangan mau di perintah kalau yang di suruh itu salah seperti yang dilakukan titinggi. Juga jangan mudah di bohongi yang pada akhirnya hanya mendatangkan penyesalan semata. Hal yang palng penting yaitu jangan mudah percaya kepada orang lain seperti layaknya watak yang di miliki ayam jago.
Jadi dari cerpen bahasa sunda bukan hanya menambah koleksi cerita untuk Anda saja. Namun dengan membaca cerpen bahasa sunda Anda secara tidak langsung belajar bahasa local. Selain itu juga mendapatkan sisi positif dari setiap amanat maupun pesan yang ada di dalamnya.
Lalu, kapan Anda akan membuat sebuah karya untuk membuktikan eksistensi Anda dalam tulisan? Wallahu a’lam.

